Pengakuan itu adalah kesaksian bahwa Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat dan sekaligus “pengharapan yang hidup” yang nampak pada hubungan Kristus dan sesama manusia.[1] Pengakuan iman dalam bahasa Yunani: Apostolicum (kata apostolos = rasul) atau Pengakuan Iman Rasuli. Dalam bahasa Latin pengakuan disebut Credo (= aku percaya). Kata kepercayaan adalah hubungan individu antara manusia dengan Tuhan[2].
Pengakuan
Iman Rasuli bukan ditulis oleh keduabelas rasul atau disusun dalam suatu rapat
gereja. Kira-kira tahun 150 sebagian sudah tercantum dalam “Symbolum Romanus” (pengakuan iman jemaat
Kristen di Roma)[3].
Disebut Pengakuan Iman Rasuli karena pengakuan itu bukan doa melainkan sebuah
ucapan iman jemaat. Pengakuan iman dapat dibagi menjadi 3 bagian: Tentang Allah
Bapa dan pencipta kita, tentang Allah Anak dan penebusan kita, dan tentang
Allah Roh Kudus serta pengudusan kita[4].
Mengaku
artinya memberi kesaksian tentang kepercayaan, dengan perkataan dan
perbuatannya. Kata “mengaku” , kata dasarnya adalah ”aku”. Pengakuan iman
rasuli mulai dengan ungkapan “aku percaya”. Aku yang dimaksud disini adalah
gereja. Mengaku berarti berpihak kepada kebenaran ilahi dan menyatakan
kebenaran itu. Jadi mengaku berarti mengaku Yesus Kristus sebagai kebenaran
yang dari Allah, kebenaran yang menjadi kebenaran hidup bagi kita, serta
kebenaran yang menentukan hidup kita sepenuhnya. Maksud dari “mengaku” adalah: dilakukan untuk penghormatan terhadap Tuhan,
Mengaku dengan sungguh-sungguh ialah memperdengarkan kesaksian Allah. Dalam
mengaku, orang berpegang dan menunjuk pada alkitab bukan kepada suatu anggapan
pribadi atau suara hati, dan dilakukan dengan kebebasan, tidak dipaksa atau
diperintah.
Iman
harus nyata dalam kehidupan kita, harus ada bukti bahwa kita hidup dalam
persekutuan dengan Tuhan dengan taat kepadaNya, selalu menanyakan kehendakNya,
menjadi saksiNya dan berpegang pada janjiNya baik hidup maupun mati.
1. Aku
Percaya Kepada Allah Bapa Yang Mahakuasa, Khalik Langit Dan Bumi
Pengakuan
iman pertama-tama mengakui Allah sebagai pencipta. Pengakuan itu didasarkan
atas kesaksian alkitab tentang penciptaan langit dan bumi (Kej. 1 dan 2).
Dengan kesaksian tentang langit dan bumi, alkitab mau katakan kepada kita bahwa
langit dan bumi tidak kekal sekalipun langit dan bumi diciptakan oleh Allah
namun tidak boleh kita sembah sebagai Allah. Kejadian 1 dan 2 mengatakan kepada
kita bahwa Allah yang menciptakan langit dan bumi adalah perjanjian yang kita
kenal. Kesaksian ini merupakan suatu
penghiburan. Allah sudah menyatakan diriNya sebagai Bapa yang mahakuasa dan
dengan perbuatan itu Ia memperlihatkan kepada kita keselamatan. Isi keselamatan
itu ialah kita sendiri menjadi anak-anak Allah dan percaya kepada Yesus, oleh
sebab itu kita datang kepada Allah dengan menyebut “Bapa Kami” sambil percaya
kepada Bapa yang mahakuasa. Ucapan aku percaya kepada Allah bukanlah suatu
semboyan kosong, tetapi pengakuan itu sungguh berisi pernyataan Allah di dalam
Yesus yang kita percaya yaitu kasih[5].
Dalam pernyataanNya Allah memperkenalkan diriNya sebagai Allah yang hidup, yang
berfirman serta bertindak. Selaku roh yang berpribadi, Allah benar-benar
merdeka. Oleh sebab itu Ia sanggup memerdekakan kita. Dalam kemerdekaan itu
terkandung bahwa Allah itu esa dan hadir dimana-mana, yang tidak berubah dan
mahakuasa, yang kekal dan mahamulia. Allah sudah menyatakan diriNya sebagai
Allah yang adalah kasih.
Bila
Allah disebut “Bapa” berarti menunjukkan bahwa Allah adalah Bapa dari Yesus
Kristus. Ada hubungan yang sangat istimewa antara Allah dan Kristus. Kristus
adalah Anak Allah yang telah menjadi manusia. Ia disalibkan dan mati tetapi
dibangkitkan oleh BapaNya yang mahakuasa. Lewat Yesus Allah menyatakan diriNya.
Allah memperlihatkan keselamatan yang dikerjakanNya bagi kita. Isi keselamatan
itu ialah : bahwa kita sendiripun boleh menjadi “anak-anak Allah”.
Allah
Bapa itu khalik langit dan bumi, dengan kata lain Dialah pencipta segala yang
kelihatan dan yang tidak kelihatan. Karna kasihNya itu Ia menghendaki adanya
dunia dan manusia, supaya kasihNya itu menjadi nyata di dunia ini. Allah bukan
sudah menciptakan langit dan bumi lalu membiarkannya, tetapiIa tetap setia di
dalam kasihNya terhadap manusia yang memberontak kepadaNya. Ia terus bekerja
dan menjadi khalik dari awal hingga akhirnya. Ia mengutus Yesus Kristus untuk
membaharui dunia.[6]
Tujuan
dan maksud kita mengaku: Aku percaya kepada Allah Bapa yang mahakuasa, khalik
langit dan bumi adalah :
1. Bapa yang kekal dari Tuhan kita sudah
menciptakan langit dan bumi serta segala isinya dengan tidak memerlukan bahan
atau suatu apapun (Kej. 1:1).
2. Saya percaya kepadaNya sehingga saya tidak
bimbang lagi bahwa Ia akan memelihara saya dalam segala hal (Maz. 55:23).
3. Segala bencana yang ditimpakanNya kepada
saya dalam kehidupan saya di dunia akan diubahnya menjadi kebaikan untuk saya
(Rom.8:28).
4. Karena Ia sanggup berbuat demikian sebagai
Allah yang mahakuasa (Mat.7:11).
2. Aku
Percaya Kepada Yesus Kristus AnakNya Yang Tunggal, Tuhan Kita
Gereja
memberikan kesaksian tentang Yesus Kristus sebagaimana diberitakan
penulis-penulis perjanjian baru, bahwa Yesus adalah orang Nazaret benar-benar
tergolong lahir sebagai manusia dan sama seperti kita namun Dia tidak berdosa.
Yesus adalah anak yang dikasihi Allah Bapa. Nama “Yesus” merupakan bentuk
Yunani dari nama Ibrani “Yosua”, artinya “TUHAN menolong”. Ia diberi gelar
“Imanuel” artinya Allah menyertai kita.
Dalam pengakuan iman, Ia
dikandung dari Roh Kudus, lahir dari anak dara Maria, Dia menderita, mati,
dikuburkan, turun ke dalam kerajaan maut, ini berarti Dia benar-benar manusia.
Ketika ia bangkit dari antara orang mati, naik ke sorga, duduk disebelah kanan
Allah Bapa dan akan datang dari sana untuk menghakimi orang yang hidup dan yang
mati, ini berarti Yesus benar-benar anak Allah. Dia menang dan menjadi hakim.
Mendapat tempat disebelah kanan Allah, tempat yang melambangkan kehormatan dan
juga mengambil bagian dalam kemuliaan Allah, serta memberikan harapan kepada
mereka yang tertindas, teraniaya, terlantar dsb, karena Yesus akan datang
menjadi hakim yang adil[7].
Di dalam anakNya yang tunggal
itu Allah sendiri mendatangi kita. Itulah yang dimaksud jika kita mengaku
percaya kepada Yesus Kristus sebagai “Anak Allah” atau “AnakNya yang tunggal”.[8]
Kesimpulan :
Pengakuan
Iman Rasuli bukanlah sebuah semboyan tetapi bentuk pengakuan kepercayaan kita
kepada Tuhan. Pengakuan itu bukan saja diucapkan tetapi sebuah pengakuan dengan
segala keberadaan yaitu dengan segenap hati,
akal budi, kekuatan, dan jiwa.
Allah adalah roh
yang tidak bisa dilihat oleh manusia namun Ia menyatakan diriNya lewat Yesus
Kristus agar kita dapat mengenal seluruh karyaNya. Yesus Kristus memiliki sifat
manusia 100% dan Ilahi 100% sehingga ia dapat merasakan apa yang dirasakan oleh
manusia.
Menurut
Karl Barth dalam Buku Dogmatika Masa Kini, percaya berarti bahwa kita memandang
kepada Kristus sebagai :
1. Nabi, yang melaluiNya firman Allah datang
bagi kita dan di dalam Dia kita dapat mengetahui untuk dapat hidup dan untuk
dapat mati.
2. Imam, yang hanya satu kali untuk
selama-lamanya mempersembahkan diriNya sehingga segala sesuatu dijadikan baik.
3. Raja, yang mempunyai kuasa memerintah dan
juga mau melaksanakan kuasa memerintah itu di dalam hidup kita.
DAFTAR
PUSTAKA
1.
Van Niftrik, G. C dan Boland, B. J. Dogmatika Masa Kini. Jakarta: BPK Gunung
Mulia, 2006
2.
Dieter Becker, Theol. Pedoman Dogmatik, suatu kompedium singkat. Jakarta: BPK Gunung
Mulia, 2009
3.
Boland, B. J. Intisari
Iman Kristen. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2014
4.
Buku Catatan Katekisasi Sidi Elisabeth Agnes
Tnuanay (Buku Katekisasi GMIT)
5.
Alkitab, Lembaga Alkitab Indonesia (LAI)
[2] Dr. G. C. Van Niftrik dan Dr. B.
J. Boland, Dogmatika Masa Kini hal.37
[3] Dr. G. C. Van Niftrik dan Dr. B.
J. Boland, Dogmatika Masa Kini
hal.37; hal.55 (band. Intisari Iman Kristen Hal. 13)
[4] Buku Catatan Katekisasi Sidi
Elisabeth Agnes Tnuanay (Buku Katekisasi GMIT)
[5] Buku Catatan Katekisasi Sidi
Elisabeth Agnes Tnuanay (Buku Katekisasi GMIT)
[6] Dr. B. J. Boland, Intisari Iman Kristen Hal. 19-24 dan Dr.
G. C. Van Niftrik dan Dr. B. J. Boland, Dogmatika
Masa Kini Hal. 92-93
[7] Catatan Katekisasi Sidi Elisabeth Agnes Tnunay (Buku Katekisasi
GMIT), ( band. Intisari Iman Kristen hal.31-32)
[8] Dr. B. J. Boland, Intisari Iman Kristen Hal.33-36
