Sabtu, 05 Desember 2015


Pengakuan itu adalah kesaksian bahwa Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat dan sekaligus “pengharapan yang hidup” yang nampak pada hubungan Kristus dan sesama manusia.[1] Pengakuan iman dalam bahasa Yunani: Apostolicum (kata apostolos = rasul) atau Pengakuan Iman Rasuli. Dalam bahasa Latin pengakuan disebut Credo (= aku percaya). Kata kepercayaan adalah hubungan individu antara manusia dengan Tuhan[2].
Pengakuan Iman Rasuli bukan ditulis oleh keduabelas rasul atau disusun dalam suatu rapat gereja. Kira-kira tahun 150 sebagian sudah tercantum dalam “Symbolum Romanus” (pengakuan iman jemaat Kristen di Roma)[3]. Disebut Pengakuan Iman Rasuli karena pengakuan itu bukan doa melainkan sebuah ucapan iman jemaat. Pengakuan iman dapat dibagi menjadi 3 bagian: Tentang Allah Bapa dan pencipta kita, tentang Allah Anak dan penebusan kita, dan tentang Allah Roh Kudus serta pengudusan kita[4].
Mengaku artinya memberi kesaksian tentang kepercayaan, dengan perkataan dan perbuatannya. Kata “mengaku” , kata dasarnya adalah ”aku”. Pengakuan iman rasuli mulai dengan ungkapan “aku percaya”. Aku yang dimaksud disini adalah gereja. Mengaku berarti berpihak kepada kebenaran ilahi dan menyatakan kebenaran itu. Jadi mengaku berarti mengaku Yesus Kristus sebagai kebenaran yang dari Allah, kebenaran yang menjadi kebenaran hidup bagi kita, serta kebenaran yang menentukan hidup kita sepenuhnya. Maksud dari “mengaku” adalah:  dilakukan untuk penghormatan terhadap Tuhan, Mengaku dengan sungguh-sungguh ialah memperdengarkan kesaksian Allah. Dalam mengaku, orang berpegang dan menunjuk pada alkitab bukan kepada suatu anggapan pribadi atau suara hati, dan dilakukan dengan kebebasan, tidak dipaksa atau diperintah.
Iman harus nyata dalam kehidupan kita, harus ada bukti bahwa kita hidup dalam persekutuan dengan Tuhan dengan taat kepadaNya, selalu menanyakan kehendakNya, menjadi saksiNya dan berpegang pada janjiNya baik hidup maupun mati.
1.       Aku Percaya Kepada Allah Bapa Yang Mahakuasa, Khalik Langit Dan Bumi
Pengakuan iman pertama-tama mengakui Allah sebagai pencipta. Pengakuan itu didasarkan atas kesaksian alkitab tentang penciptaan langit dan bumi (Kej. 1 dan 2). Dengan kesaksian tentang langit dan bumi, alkitab mau katakan kepada kita bahwa langit dan bumi tidak kekal sekalipun langit dan bumi diciptakan oleh Allah namun tidak boleh kita sembah sebagai Allah. Kejadian 1 dan 2 mengatakan kepada kita bahwa Allah yang menciptakan langit dan bumi adalah perjanjian yang kita kenal. Kesaksian ini merupakan  suatu penghiburan. Allah sudah menyatakan diriNya sebagai Bapa yang mahakuasa dan dengan perbuatan itu Ia memperlihatkan kepada kita keselamatan. Isi keselamatan itu ialah kita sendiri menjadi anak-anak Allah dan percaya kepada Yesus, oleh sebab itu kita datang kepada Allah dengan menyebut “Bapa Kami” sambil percaya kepada Bapa yang mahakuasa. Ucapan aku percaya kepada Allah bukanlah suatu semboyan kosong, tetapi pengakuan itu sungguh berisi pernyataan Allah di dalam Yesus yang kita percaya yaitu kasih[5]. Dalam pernyataanNya Allah memperkenalkan diriNya sebagai Allah yang hidup, yang berfirman serta bertindak. Selaku roh yang berpribadi, Allah benar-benar merdeka. Oleh sebab itu Ia sanggup memerdekakan kita. Dalam kemerdekaan itu terkandung bahwa Allah itu esa dan hadir dimana-mana, yang tidak berubah dan mahakuasa, yang kekal dan mahamulia. Allah sudah menyatakan diriNya sebagai Allah yang adalah kasih.
Bila Allah disebut “Bapa” berarti menunjukkan bahwa Allah adalah Bapa dari Yesus Kristus. Ada hubungan yang sangat istimewa antara Allah dan Kristus. Kristus adalah Anak Allah yang telah menjadi manusia. Ia disalibkan dan mati tetapi dibangkitkan oleh BapaNya yang mahakuasa. Lewat Yesus Allah menyatakan diriNya. Allah memperlihatkan keselamatan yang dikerjakanNya bagi kita. Isi keselamatan itu ialah : bahwa kita sendiripun boleh menjadi “anak-anak Allah”.
Allah Bapa itu khalik langit dan bumi, dengan kata lain Dialah pencipta segala yang kelihatan dan yang tidak kelihatan. Karna kasihNya itu Ia menghendaki adanya dunia dan manusia, supaya kasihNya itu menjadi nyata di dunia ini. Allah bukan sudah menciptakan langit dan bumi lalu membiarkannya, tetapiIa tetap setia di dalam kasihNya terhadap manusia yang memberontak kepadaNya. Ia terus bekerja dan menjadi khalik dari awal hingga akhirnya. Ia mengutus Yesus Kristus untuk membaharui dunia.[6]
Tujuan dan maksud kita mengaku: Aku percaya kepada Allah Bapa yang mahakuasa, khalik langit dan bumi adalah :
1.       Bapa yang kekal dari Tuhan kita sudah menciptakan langit dan bumi serta segala isinya dengan tidak memerlukan bahan atau suatu apapun (Kej. 1:1).
2.       Saya percaya kepadaNya sehingga saya tidak bimbang lagi bahwa Ia akan memelihara saya dalam segala hal (Maz. 55:23).
3.       Segala bencana yang ditimpakanNya kepada saya dalam kehidupan saya di dunia akan diubahnya menjadi kebaikan untuk saya (Rom.8:28).
4.       Karena Ia sanggup berbuat demikian sebagai Allah yang mahakuasa (Mat.7:11).
2.       Aku Percaya Kepada Yesus Kristus AnakNya Yang Tunggal, Tuhan Kita
Gereja memberikan kesaksian tentang Yesus Kristus sebagaimana diberitakan penulis-penulis perjanjian baru, bahwa Yesus adalah orang Nazaret benar-benar tergolong lahir sebagai manusia dan sama seperti kita namun Dia tidak berdosa. Yesus adalah anak yang dikasihi Allah Bapa. Nama “Yesus” merupakan bentuk Yunani dari nama Ibrani “Yosua”, artinya “TUHAN menolong”. Ia diberi gelar “Imanuel” artinya Allah menyertai kita.
                Dalam pengakuan iman, Ia dikandung dari Roh Kudus, lahir dari anak dara Maria, Dia menderita, mati, dikuburkan, turun ke dalam kerajaan maut, ini berarti Dia benar-benar manusia. Ketika ia bangkit dari antara orang mati, naik ke sorga, duduk disebelah kanan Allah Bapa dan akan datang dari sana untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati, ini berarti Yesus benar-benar anak Allah. Dia menang dan menjadi hakim. Mendapat tempat disebelah kanan Allah, tempat yang melambangkan kehormatan dan juga mengambil bagian dalam kemuliaan Allah, serta memberikan harapan kepada mereka yang tertindas, teraniaya, terlantar dsb, karena Yesus akan datang menjadi hakim yang adil[7].
                Di dalam anakNya yang tunggal itu Allah sendiri mendatangi kita. Itulah yang dimaksud jika kita mengaku percaya kepada Yesus Kristus sebagai “Anak Allah” atau “AnakNya yang tunggal”.[8]



Kesimpulan :
                Pengakuan Iman Rasuli bukanlah sebuah semboyan tetapi bentuk pengakuan kepercayaan kita kepada Tuhan. Pengakuan itu bukan saja diucapkan tetapi sebuah pengakuan dengan segala keberadaan yaitu dengan segenap hati,  akal budi, kekuatan, dan jiwa.
                Allah adalah roh yang tidak bisa dilihat oleh manusia namun Ia menyatakan diriNya lewat Yesus Kristus agar kita dapat mengenal seluruh karyaNya. Yesus Kristus memiliki sifat manusia 100% dan Ilahi 100% sehingga ia dapat merasakan apa yang dirasakan oleh manusia.
Menurut Karl Barth dalam Buku Dogmatika Masa Kini, percaya berarti bahwa kita memandang kepada Kristus sebagai :
1.       Nabi, yang melaluiNya firman Allah datang bagi kita dan di dalam Dia kita dapat mengetahui untuk dapat hidup dan untuk dapat mati.
2.       Imam, yang hanya satu kali untuk selama-lamanya mempersembahkan diriNya sehingga segala sesuatu dijadikan baik.
3.       Raja, yang mempunyai kuasa memerintah dan juga mau melaksanakan kuasa memerintah itu di dalam hidup kita.







DAFTAR PUSTAKA
1.       Van Niftrik, G. C dan Boland, B. J. Dogmatika Masa Kini. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006
2.       Dieter Becker, Theol. Pedoman Dogmatik, suatu kompedium singkat. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009
3.       Boland, B. J. Intisari Iman Kristen. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2014
4.       Buku Catatan Katekisasi Sidi Elisabeth Agnes Tnuanay (Buku Katekisasi GMIT)
5.       Alkitab, Lembaga Alkitab Indonesia (LAI)


[1] Dr. Theol. Dieter Becker, Pedoman Dogmatika Hal. 25-26
[2] Dr. G. C. Van Niftrik dan Dr. B. J. Boland, Dogmatika Masa Kini hal.37
[3] Dr. G. C. Van Niftrik dan Dr. B. J. Boland, Dogmatika Masa Kini hal.37; hal.55 (band. Intisari Iman Kristen Hal. 13)
[4] Buku Catatan Katekisasi Sidi Elisabeth Agnes Tnuanay (Buku Katekisasi GMIT)
[5] Buku Catatan Katekisasi Sidi Elisabeth Agnes Tnuanay (Buku Katekisasi GMIT)
[6] Dr. B. J. Boland, Intisari Iman Kristen Hal. 19-24 dan Dr. G. C. Van Niftrik dan Dr. B. J. Boland, Dogmatika Masa Kini Hal. 92-93
[7] Catatan Katekisasi Sidi  Elisabeth Agnes Tnunay (Buku Katekisasi GMIT), ( band. Intisari Iman Kristen hal.31-32)
[8] Dr. B. J. Boland, Intisari Iman Kristen Hal.33-36

Tidak ada komentar:

Posting Komentar